Setelah Klarifikasi: Memperkuat Pembuktian Unsur-unsur Pidana | KAMMI NEWS

Setelah Klarifikasi: Memperkuat Pembuktian Unsur-unsur Pidana

Ibu Sukmawati saat meminta maaf atas puisinya (Foto: Viva/Lilis). Setelah Klarifikasi: Memperkuat Pembuktian Unsur-unsur Pidana dalam P...

Ibu Sukmawati saat meminta maaf atas puisinya (Foto: Viva/Lilis).

Setelah Klarifikasi: Memperkuat Pembuktian Unsur-unsur Pidana dalam Pembacaan Puisi “Ibu Indonesia”

Oleh: Mira Fajri, (Direktur Lembaga Kajian Hukum KAMMI)

Upaya Ibu Sukmawati untuk memberikan klarifikasi atas pembacaan puisi “Ibu Indonesia” sangat patut diapresiasi. Setidak-tidaknya kelapangan hati Ibu Sukmawati telah berhasil menangguk pemaafan dari sebagian besar rakyat Indonesia yang sebelumnya begitu geram. Pada suatu taraf logis, pemaafan itu telah berhasil meredakan sebagian besar gejolak yang terjadi. Adanya rencana Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) untuk mencabut laporannya apabila Ibu Sukmawati bersedia saling bertemu, menunjukkan suatu pemaafan yang begitu besar.

Namun sayangnya, kelapangan hati dan pemaafan itu, tidak dapat menjawab kandungan persoalan hukum yang telah berlangsung berdasarkan laporan berbagai pihak, termasuk yang diajukan TPUA. Sebab, delik yang dilaporkan atas Ibu Sukmawati bukanlah jenis delik aduan, melainkan jenis delik biasa. Artinya, pencabutan laporan, tak dapat dijadikan dasar dalam penghentian penyidikan kepolisian. Laporan bukanlah prasyarat dipidananya seseorang atas Pasal 156 dan Pasal 156a KUHP.

Hal ini jelas, sebagaimana konsep pencabutan Laporan itu tidak dapat ditemukan penormaannya dalam KUHP maupun KUHAP. Tanpa penormaan tertulis, konsep hukum pidana tak bisa diubah sebab ia terikat kuat dengan asas legalitas. Justru, yang dinormakan adalah didasarkannya penyidikan berdasarkan Laporan dalam Pasal 5 KUHP juncto Pasal 1 Ayat 2 KUHP serta Pasal 4 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana (Perkap Nomor 14 Tahun 2012). 

Secara khusus, Pasal 1 Angka 21 Perkap Nomor 14 Tahun 2012 menyebutkan bahwa Laporan dan 1 (satu) alat bukti yang sah merupakan definisi dari Bukti permulaan yang digunakan untuk menduga bahwa seseorang telah melakukan tindak pidana sebagai dasar untuk dilakukan penangkapan. Sehingga, apabila hanya dengan satu Laporan saja, dapat memberikan status kecukupan Bukti permulaan, bagaimana dengan 5 Laporan?

Setelah ditetapkannya Laporan Hasil Penyelidikan (P-5) yang menetapkan dugaan tindak pidana berdasarkan Bukti Permulaan itu, sudah sepatutnya polisi segera mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan (P-8). Selanjutnya jika masih ada juga celah lepasnya Ibu Sukmawati dari jeratan tuntutan Kejaksaan, hal itu secara formil, pastilah disebabkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (P-14). Sayangnya secara akademis, peryaratan P-14 yakni (1) tidak diperoleh bukti yang cukup, (2) tidak dinilai sebagai tindak pidana, dan (3) dinyatakan batal demi hukum, sudah tidak dapat dicapai dalam keterbukaan isu hukum yang sudah mengemuka saat ini.

Sebab selain peristiwa pembacaan puisi “Ibu Indonesia”, celakanya, klarifikasi Ibu Sukmawati atas “Ibu Indonesia”, baik yang disampaikannya ke sebuah media massa pada tanggal 2 April 2018 maupun yang melalui konferensi pers pada 4 April 2018, justru memperkuat pembuktian unsur-unsur pidananya.

Pertama, Ibu Sukmawati mengatakan bahwa, “Ini tentang Indonesia, tidak ada SARA”.

Saya pikir pendapat Balya Nur dalam kolom Wacana portal Pepnews berjudul Mempertanyakan Puisi “Ibu Indonesia” Sukmawati Soekarnoputri tanggal 3 April 2018 sangat patut ditengok ketika dipandangnya bahwa, “Sukmawati menganggap puisinya bagian dari seni, tetapi isinya dimaknakan sebagai kegundahan tentang "invasi" budaya Islam yang mengganggu budaya lokal. Dari soal busana sampai suasana, atmosfir budaya yang hilang (yang dilambangkan dengan suara tembang) yang berganti dengan atmosfir Islam (yang dilambangkan dengan suara adzan). Puisi ini lebih banyak puja-puji pada budaya lokal yang dibenturkan dengan budaya Islam. Di situlah SARA-nya. Padahal budaya ‘kan bisa berkompromi, saling melengkapi. Dia tidak ingin ada daerah yang belum masuk budaya Islam ikut “terjajah”.

Kedua, Ibu Sukmawati mengatakan bahwa, “Azan adalah seni suara”.

Perkataan ini justru bertentangan dengan kalimat klarifikasi lainnya, yakni, “Tidak ada niatan untuk menghina umat Islam Indonesia”. Sebagai seorang Muslimah yang bangga dan bersyukur dengan keislamannya, Ibu Sukmawati, tentulah tidak akan menilai azan hanya sebatas seni suara yang dapat diperbandingkan dengan kidung hanya karena penilaian merdu dan tidak merdunya.

Sehingga jika bukan karena delik pernyataan permusuhan supremasi hukum ditegakkan sebagaimana yang dilaporkan, ada potensi Ibu Sukmawati dapat dijerat oleh delik penodaan agama atas perkataannya yang bukan kalimat karya sastra itu.

Ketiga, Ibu Sukmawati mengatakan bahwa “Ini ditulis sebagai refleksi dari keprihatian saya tentang rasa wawasan kebangsaan yang saya rangkum semata mata untuk menarik perhatian anak-anak bangsa untuk tidak melupakan jati diri Indonesia asli.” Selain itu Ibu Sukmawati menambahkan pula perkataan, “Dalam hal ini Islam yang bagi saya begitu agung, mulia, dan indah” dan “Puisi itu juga merupakan bentuk penghormatan saya terhadap Ibu Pertiwi Indonesia yang begitu kaya dengan tradisi kebudayaan dalam susunan masyarakat Indonesia yang begitu berbhineka namun tetap Tunggal Ika.

Sejalan dengan pendapat Balya Nur di atas, dapat disimpulkan bahwa Ibu Sukmawati benar prihatin terhadap ekspresi keislaman sebagian rakyat Indonesia melalui cadar dan azan sebab Ibu mengganggap bahwa keduanya bukanlah bagian dari Indonesia asli. Beliau telah mengeluarkan bahasa sastra kepada dimensi perkataan biasa yang rupanya saling menyetujui.

Sebagai catatan, Islam telah melekat ke dalam kebangsaan Indonesia, sebagaimana juga Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu, sebagaimana dipayungi oleh Pasal 29 UUD N RI 1945. Itulah keaslian Indonesia, serta rumusan konstitusionalitasnya. Ketidakmampuan Ibu Sukmawati untuk melakukan transliterasi atas agung dan mulianya Islam terhadap Bhineka Tunggal Ika bangsa Indonesia, bisa jadi yang melahirkan ketidaksesuaian logis tersebut.

Lalu, apa yang dapat Ibu Sukmawati lakukan agar dapat menegakkan supremasi hukum sekaligus lepas dari jerat pidana?

Mudah. Beliau dapat memberikan pembuktian yang pada pokoknya, setidak-tidaknya menjelaskan tidak terpenuhinya unsur-unsur pidana jantung Pasal 156 dan Pasal 156a KUHP, yakni (1) perasaan permusuhan terhadap golongan rakyat Indonesia yang mengimani azan dan cadar sebagai bagian dari Islam, (2) perasaan yang bersifat permusuhan terhadap ajaran Islam, yakni adzan dan cadar.
Dengan demikian, dapatlah kita berharap supremasi hukum dapat ditegakkan dan beliau juga tidak mendapatkan pidana yang maksimal

Selengkapnya unduh : Rilis Saran KAMMI untuk Ibu Sukmawati
Nama

Agenda,28,Aksi,17,Artikel,8,Audiensi,2,Berita,9,Daerah,34,Debat,1,Demonstrasi,69,Dialog,7,Diskusi,13,Ekonomi,18,HAM,1,Historis,2,Hukum,17,Internasional,10,KAMMI,2,Kamminews,37,Kampus,8,Kebangsaan,23,Kemanusiaan,1,Keumatan,3,Konsolidasi,1,Muktamar,1,Musda,3,News,41,Opini,21,Orasi,24,Pelantikan,13,Pelatihan,1,Perempuan,10,Pernyataan,14,Politik,33,Religi,10,Sejarah,2,Sejarah KAMMI,1,Silaturahmi,11,Solidaritas,21,Sosial,33,Tentang KAMMI,1,Tradisi,2,Zona,6,
ltr
item
KAMMI NEWS: Setelah Klarifikasi: Memperkuat Pembuktian Unsur-unsur Pidana
Setelah Klarifikasi: Memperkuat Pembuktian Unsur-unsur Pidana
https://1.bp.blogspot.com/-TMKGgyPun3o/Wsbbaf7Df8I/AAAAAAAAAJo/cKKeivSu4IMVwxy0KnIBOag9z_R0_0y6ACLcBGAs/s640/08_17_17_2018_04_05_Memperkuat%2BPembuktian%2BUnsur_unsur%2BPidana%2Bdalam%2BPembacaan%2BPuisi%2B%25E2%2580%259CIbu%2BIndonesia%25E2%2580%259D.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-TMKGgyPun3o/Wsbbaf7Df8I/AAAAAAAAAJo/cKKeivSu4IMVwxy0KnIBOag9z_R0_0y6ACLcBGAs/s72-c/08_17_17_2018_04_05_Memperkuat%2BPembuktian%2BUnsur_unsur%2BPidana%2Bdalam%2BPembacaan%2BPuisi%2B%25E2%2580%259CIbu%2BIndonesia%25E2%2580%259D.jpg
KAMMI NEWS
https://www.kamminews.com/2018/04/setelah-klarifikasi-memperkuat-pembuktian-unsur-pidana-dalam-pembacaan-puisi-ibu-sukmawati.html
https://www.kamminews.com/
https://www.kamminews.com/
https://www.kamminews.com/2018/04/setelah-klarifikasi-memperkuat-pembuktian-unsur-pidana-dalam-pembacaan-puisi-ibu-sukmawati.html
true
5458317180500775300
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy