Padat Karya Tunai, Revolusi Desa Setengah Hati | KAMMI NEWS

Padat Karya Tunai, Revolusi Desa Setengah Hati

Padat Karya Tunai Revolusi Desa Setengah Hati * Heriyanto (Ketua Bidang Kebijakan Publik PW KAMMI Kalbar) P residen Jokowi dalam kam...


Padat Karya Tunai Revolusi Desa Setengah Hati

* Heriyanto (Ketua Bidang Kebijakan Publik PW KAMMI Kalbar)

Presiden Jokowi dalam kampanyenya menjanjikan Dana Desa mencapai 1 Miliyar setiap desa. Dengan jumlah desa 83 ribu lebih, maka APBN yang harus dianggarakan adalah lebih dari 83 Triliun.

Janji Jokowi ini belum terpenuhi hingga tahun 2017, dengan Dana Desa yang dianggarkan hanya mencapai 60an Triliyun pada tahun 2018 ini.

Presiden Jokowi diperkirakan akan memenuhi janjinya tersebut pada tahun 2019 yang merupakan tahun terakhir kepemimpinnanya dengan menambah anggaran Dana Desa mencapai 25 triliyun.

Tidak adanya peningkatan yang signifikan Dana Desa di tahun 2018 dari tahun sebelumnya disinyalir karena kurangnya dampak Dana Desa bagi peningkatan kesejahteraan di desa.

Peningkatan kesejahteraan di desa sendiri adalah salah satu indicator yang dipatok pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan bersama empat kriteria lainnya yaitu mengentaskan kemiskinan, meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat, serta mengatasi ketimpangan pelayanan public antardesa.

Menuju 1 milyar 1 desa ini, maka berbagai skema mulai dijalankan oleh pemerintah demi memenuhi empat indicator tersebut.

Salah satu skema yang digulirkan adalah Padat Karya Tunai (PKT). Program PKT resmi digulirkan berdasarkan SKB 4 Menteri yaitu Menko PMK, Menkeu, Menteri Desa dan Mendagri. Padat Karya Tunai sendiri pada dasarnya bukanlah program baru, jauh sebelumnya di Orde Baru telah dikenal program Padat Karya.

Padat Karya di orde baru banyak dikritik karena dianggap mengeksploitasi tenaga kerja manusia untuk menekan biaya operasional serta memberi upah peling rendah di dunia saat itu. Apakah PKT yang digulirkan oleh empat Menteri ini akan mengulang hal serupa?

Baca Juga : Arah Reformasi 2.0

Menjawab pertanyaan sebelumnya, apakah PKT akan mengulangi Padat Karya di Orde baru?, setidaknya ada 3 hal yang perlu dikritisi dari pelaksanaan program ini.

Pertama, dari sisi perencanaan banyak desa yang mengeluhkan keharusan mencapai angka rata-rata 30% untuk menjadi upah tenaga kerja. Pengalaman desa dalam perencanaan selama ini, rata-rata upah dari kegiatan pembangunan hanya mencapai 20%.

Belum lagi desa yang menjalankan pola gotong royong dalam pelaksanan kegiatannya bahkan bisa menekan pengeluaran untuk upah hingga 10% yang dialokasikan untuk makan minum dalam kegiatan gotong royong tersebut.

Gotong Royong sendiri adalah kearifan lokal Indonesia yang berarti kerja sama dengan berbagai penyebutan di daerah seperti Gugur Gunung di Yogyakarta, Ammossi di Sulawesi Selatan dan Jolujolu di Sumatera Utara.

Dengan kehadiran PKT juga dikhawatirkan akan melunturkan semangat Gotong Royong masyarakat di Desa karena semua aktifitas pembangunan dikonversi menjadi upah demi mencapai target 30%.

Lunturnya semangat Gotong royong tentu akan berakibat lain, misalnya rendahnya kepedulian masyarakat dalam menjaga asset dan hasil pembangunan desa.

Kesulitan mencapai angka 30% juga dirasakan oleh desa-desa yang masih dalam kondisi terisolir, dimana kebutuhan mereka salah satunya adalah misalnya pembukaan badan jalan. Aktivitas ini mau tidak mau harus menggunakan alat berat yang tidak bisa mengakomodir tenaga kerja.

Sebagian besar desa di Kalimantan Barat mengalami kondisi terisolir ini.

Hal lain dari yang menjadi kendala pencapaian 30% adalah besaran upah maksimum dalam bentuk Hari Orang Kerja (HOK) yang ditentukan oleh masing-masing pemda yang dirasa sangat rendah.

HOK di Kalimantan Barat misalnya hanya berkisar 85-100 ribu rupiah, lebih rendah dari upah harian buruh bangunan yang bisa mencapai 150 ribu.

Permasalahan ketiga dari program PKT ini adalah saat pelaksanaan nantinya. Pekerja PKT yang disasar dari pengangguran, setengah pengangguran, keluarga miskin, dan keluarga stunting, meragukan untk terealisasi.

Dalam evaluasi pelaksanaan Dana Desa sebelumnya, ditemukan banyaknya pelaksaan pembangunan yang dilaksanakan oleh pihak ketiga atau kontraktor-kontraktor kecil yang khusus menyasar desa.

Tak ada jaminan tuntutan PKT akan menjadikan pola tersebut berubah, justru dikhawatirkan akan semakin menjamur. Jikapun terlaksana dengan melibatkan keempat kategori sasaran PKT tersebut, selanjutnya bagaimana jaminan akan kualitas fisik dari pembangunan yang dilaksanakan oleh pekerja yang bukan ahlinya.

Selain itu, desa juga dibebani untuk segera menyelesaikan pembangunannya agar dapat menyerap Dana Desa tahap selanjutnya.

Serta belum tentu pula dengan terlibat menjadi tenaga kerja di PKT maka otomatis mereka yang pengangguran menjadi tidak menganggur, apalagi keluarga stunting lalu enam bulan kemudian menjadi tidak stunting.

Terakhir, kritik juga perlu kita ajukan pada slogan “Revolusi Desa” yang didengungkan saat UU Desa dikeluarkan. Alih-alih revolusi, kini Desa menjadi objek baru para Politisi yang gemar pencitraan.

Pun program PKT ini tak lepas dari klaim dan pencitraan. Baru saja digulirkan dan dijalankan beberapa bulan, menteri desa telah mengklaim menyerap 5 juta tenaga kerja dan menurunkan angka penduduk stunting hingga 10 juta penduduk.

Perlu kiranya sang menteri menjelaskan kepada khalayak 5 juta tenaga kerja itu digaji berapa sehingga mereka layak diklaim sebagai tenaga kerja baru? Kemudian bagaimana mungkin hanya dalam beberapa bulan 10 juta anak-anak stunting dapat dilenyapkan hanya karena orang tua mereka bekerja dari program PKT Dana Desa? Mari tetap berpikir jernih, kita kawal Revolusi Desa! (*)
Nama

Agenda,22,Aksi,17,Artikel,4,Audiensi,2,Berita,8,Daerah,23,Debat,1,Demonstrasi,45,Dialog,7,Diskusi,9,Ekonomi,16,Historis,2,Hukum,13,Internasional,9,KAMMI,3,Kamminews,38,Kampus,6,Kebangsaan,21,Musda,2,News,20,Opini,16,Orasi,8,Pelantikan,11,Pelatihan,1,Perempuan,8,Pernyataan,9,Politik,27,Redaksi,1,Religi,6,Sejarah,2,Silaturahmi,11,Solidaritas,15,Sosial,25,Tentang Kami,1,Tentang KAMMI,2,Tradisi,2,Zona,6,
ltr
item
KAMMI NEWS: Padat Karya Tunai, Revolusi Desa Setengah Hati
Padat Karya Tunai, Revolusi Desa Setengah Hati
https://1.bp.blogspot.com/-DduPcju_IqI/Wwjim88VXrI/AAAAAAAAAtY/ZKi1FzbAl5ADsvFx3vkFOPCxCiOp8rwIACLcBGAs/s640/dana-desa.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-DduPcju_IqI/Wwjim88VXrI/AAAAAAAAAtY/ZKi1FzbAl5ADsvFx3vkFOPCxCiOp8rwIACLcBGAs/s72-c/dana-desa.jpg
KAMMI NEWS
https://www.kamminews.com/2018/05/padat-karya-tunai-revolusi-desa-setengah-hati.html
https://www.kamminews.com/
https://www.kamminews.com/
https://www.kamminews.com/2018/05/padat-karya-tunai-revolusi-desa-setengah-hati.html
true
5458317180500775300
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy